“KEMENANGAN OBAMA TAK BERARTI APA-APA UNTUK KITA”

Kemenangan Barrack Obama pada Pilpres AS membuat ada segelintir rakyat Indonesia sumringah, sejarah Obama yang pernah tinggal di Indonesia beberapa tahun menjadi harapan besar akan perubahan penting untuk negeri ini, khususnya kebijakan-kebijakan politik AS kepada Indonesia yang sering pasang surut.

Kemenangan kubu Obama mengalahkan Mc Cain dianggap sebagai kememenangan global yang membenci kebijakan AS dibawah rezim “Mr Bush” dari kubu republik, Saya sangat khawatir kemenangan Obama justru akan melahirkan sentimen baru untuk Indonesia apalagi salah satu orang dekat Obama adalah Yahudi Bin Israel yang tentu dibenci masyarakat mayoritas di Indonesia. ada kekhawatiran berlebih berkaitan dengan rencana makar yang sengaja ingin men”Timor-Timur”kan Papua dan Aceh, penulis yakin naiknya Obama akan mendorong LSM-LSM Internasional lebih giat dalam memprovokasi masalah disintegrasi bangsa kita, mengusung pelanggaran HAM dan yang paling penting politik kepentingan pada Pilpres 2009.

Awas bangsa kita tak perlu terlalu bereforia dengan kemenangan Obama, kemenangan Obama tak berarti apa apa untuk kita” ( ridwan hartiwan raharusun)

Diterbitkan di: on November 21, 2008 at 1:40 pm  Komentar (3)  
Tags: ,

PESANTREN, FA AINA TADZHABUN?

“Sebuah catatan kritis terhadap pemerintah dan Masyarakat Global’

Gejolak Krisis Dunia terasa panas, kematian Imam Samudra Cs pun menambah hingar bingar persaingan global yang terselubung, kini ada pula situs kartun yang menghina nabi Muhammad SAW.

Sentimentil dunia barat terhadap Islam tidak akan pernah berhenti, dulu Abu bakar Baasyir menjadi tertuduh negara Superpower Amerika dengan sertamerta mencurigai Pesantren sebagai sarang teroris, sebenarnya dunia Internasional konon lebih senang melihat moderatisme Islam di Indonesia, radikalisme dan fundamentalisme Islam dianggap membahayakan kepentingan kapitalisme global, berbicara kapitalisme global tentu kita berbicara kepentingan Amerika diberbagai aspek.

Kemenangan Barrack Hussein Obama menyiratkan keinginan masyarakat global akan dunia yang damai, namun penulis berpendapat Dunia tidak akan pernah damai dan Islam dan kaum Muslimin tetap akan menjadi tertuduh untuk berbagai kasus Internasional

Kalangan pesantren tak perlu segan menghadapi sentimentil Barat, masyarakat pesantren tetap perlu bebas mengekspresikan wajah mereka tanpa harus bersujud dibawah bendera Amerika, Pesantren memiliki kemandirian dan sejarah tersendiri di Indonesia.

Pemerintah wajib menjembatani pesantren menjadi lembaga kemasyarakatan yang bukan hanya berfungsi sebagai tempat menuntut Ilmu lebih jauh dari itu harus bisa mengantarkan pesantren berada dijalur universalisme Islam dan pesantren

Pemerintahan Yudhoyono saat ini hanya menjadikan pesantren sebagai komoditas politik dan tak pernah serius membantu pesantren, tengoklah anggaran mana yang menyentuh pesantren secara luas? nyaris tidak ada.

Tetap teguhlah masyarakat pesantren May Allah SWT bless you all…. (ridwan hartiwan raharusun)

Diterbitkan di: on November 21, 2008 at 4:10 pm  Komentar (2)  

Facebook dan Penurunan daya kreativitas

Fenomena Facebook yang menggila diseantero jagat benar benar membuat wajah dunia berubah, saat Barrack Obama berkampanye hingga kini tak pelak membuat jutaan manusia terbius aktivitas berbasis facebook apalagi facebook merambah pada dunia telepon seluler rasanya tidak afdol jika HP kita tidak memiliki fasilitas jejaring sosial ini.
Masyarakat Indonesia adalah terbesar ke-4 dalam penggunaan facebook karenanya Facebook menjadi dasar banyak kalangan untuk dijadikan media bisnis, politik hingga cinta manusia. yang patut diingat adalah saat kita berfacebook ria terkadang kita lupa membuka informasi lain yang mengakibatkan daya kreativitas kita menurun karenanya hati-hatilah gunakanlah facebook sebijaksana mungkin(ridwanhartiwan)

Diterbitkan di: on Januari 7, 2010 at 9:16 am  Komentar (1)  

Adakah representasi Sikap Kenabian di tokoh idola kita

Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada kita dengan segala Sunnah/haditsnya, diberbagai pelosok dunia Umat Islam adalah yang mengakui Nabi Muhammad Sebagai Nabi Akhir zaman, sifat kenabian Muhammad SAW adalah sesuatu yang wajib diikuti umatnya sebagai Rasulullah panutan dengan segala sikap terpujinya melahirkan penterjemahan atas sikap Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan beliau sehari hari, terlebih secara fisik nabi Muhammad tidak diperkenankan digambar secara visualitas.

Ketokohan dimasyarakat Indonesia memang dilandasi oleh nilai keagamaan yang sangat kental dengan kelompok /komunitas keagamaan, Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah, Pesantren sering menjadi standar figur bagi tokoh tokoh yang dibanggakan masyarakat. KH Abdullah Gymnastiar, Arifin Ilham, Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Buya Hamka, para Habaib dan yanglainnya sering merepresentasi diri dengan semangat ke-Islaman yang dibawa dengan berbeda latarbelakang dan persepsi. dilapisan Grass root masyarakat terlanjur mempercaya seseorang dari figurnya menimbulkan clash(benturan) antar pengikut

Yang menjadi pertanyaan adalah sikap hidup nabi Muhammad SAW yang menjadi panutan, apakah benar benar telah menjadi landasan cara berfikir seorang tokoh panutan karena diikuti banyak orang??

Diterbitkan di: on Januari 1, 2010 at 3:01 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

SURAT KEPRIHATINAN
ATAS KASUS PERKOSAAN ANAK 5 TAHUN OLEH 3 PEMUDA
Dengan ini kami menyampaikan rasa prihatin yang sangat mendalam atas terjadinya kasus perkosaan terhadap anak usia 5 tahun yang diduga dilakukan oleh 3 pemuda di kampung patrol Rt 11/04 Desa Cimanggu Kecamatan Cisalak Kabupaten Subang dihari kelima bulan suci Ramadhan, W nama korban mengalami shock dan pendarahan hebat hingga dirawat Intensif disalahsatu rumahsakit pemerintah di Kota Subang, tragisnya korban w berasal dari keluarga tidak mampu bahkan kedua orangtuanya telah bercerai.
Terjadinya perkosaan tersebut saat w ditinggal sang ibu untuk bekerja dan tersangka Her, Ir dan Am membawa ke rumah Ir sehingga terjadilah perkosaan tersebut, sebagai pimpinan pesantren dimana w tinggal dan para pelaku berada disatu lingkungan kami merasa bahwa peristiwa tersebut telah menodai kesucian bulan ramadhan dan disaat pemerintah menggaungkan perlindungan terhadap anak, karenanya kami memohon dan berharap :
1. Adanya respon dari pemerintah Daerah/Propinsi, Pemda Kabupaten hingga Kecamatan dan Desa atas kasus tersebut mengingat hingga saat ini korban dan keluarganya belum mendapatkan bantuan dan perlindungan hukum yang selayaknya diterima oleh setiap warganegara untuk membela hak-haknya
2. Agar kasus ini dapat diselesaikan melalui jalur hukum dan polisi (Polsek Cisalak) bersikap professional dengan menahan 3 tersangka yang saling berkaitan serta menolak berbagai macam intimidasi dan suap jika ada pihak pihak yang mungkin ingin mempetieskan kasus ini, kami percaya aparat kepolisian RI ditingkat Pusat ataupun daerah(Polsek) mampu menjadi pelayan masyarakat yang baik dalam menyelesaikan kasus tersebut
3. Agar Komnas HAM, Komisi Perlindungan Anak, Pers mau membantu korban terhindar dari Trauma, Syndrome yang berkepanjangan serta mendorong aparat penegak hukum menegakkan hukum seadil-adilnya karena keberadaan para tersangka akan menjadi zombie bagi masyarakat sekitar jika tidak diselesaikan secara tuntas dijalur hukum
4. Kepada masyarakat luas agar mewaspadai praktek-praktek criminal yang bias membahayakan kita dan keluarga disekitar kita
Demikian Surat Keprihatinan ini kami sampaikan semoga bermanfaat dan menjadi pelajaran bagi kita sekalian…

Diterbitkan di: on September 2, 2009 at 8:02 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

99,805 Persen Siswa SLTP DKI Lulus UN

JAKARTA — Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Taufik Yudi Mulyanto, MPd mengatakan kelulusan ujian nasional (UN) SLTP di DKI mencapai 99,805 persen. Dari 132.956 siswa peserta UN 2008/2009 yang dinyatakan lulus sebanyak 132.697 siswa, 259 tidak lulus. “Nilai rata-rata kelulusan untuk mata pelajaran bahasa Indonesia (7,45) bahasa Inggris (6,86) Matematika (6,95) dan IPA (6,66),” katanya di Jakarta, Sabtu (20/6).

Dari jumlah peserta yang lulus, menurut Taufik, ada tiga siswa yang mendapat nilai sempurna 10 untuk mata pelajaran bahasa Indonesia. Sementara yang mendapat nilai 10 untuk bahasa Inggris 48 siswa, 3.608 siswa untuk matematika, dan 65 siswa untuk IPA. Tahun lalu berhasil mendapat angka 10 untuk IPA hanya 26 siswa dan hanya 1.405 siswa yang memeroleh angka 10 untuk matematika.

Menurut Taufik tingkat kelulusan UN SLTP tahun ini hanya sedikit menurun dari tahun lalu. Tahun lalu tingkat kelulusannya 99,98 persen. “Sedikit penurunannya. Itu terjadi karena ada siswa yang tidak lulus, tahun ini ternyata tidak lulus lagi. Kalau angka kelulusannya hanya murni peserta ujian tahun ini saya kira hasilnya lebih baik, ” katanya.

Kepulauan Seribu tahun 2009 ini mencatat kelulusan 100 persen. Dari 417 peserta UN semuanya berhasil lulus dengan nilai rata-rata 6,59 untuk bahasa Indonesia, 6,67 untuk bahasa Inggris, 6,82 untuk Mmatematika dan 6,99 untuk IPA.

Taufik menyebut keberhasilan tersebut karena adanya kerjasama dari semua pihak untuk mendukung pendidikan yang berkualitas. “Hasil UN ini merupakan pemetaan bagi pendidikan di DKI Jakarta. Karena itu dengan hasil ini pendidikan di Jakarta akan ditingkatkan lagi. “Ini merupakan kerjasama semua pihak yang telah mendukung pendidikan berkualitas termasuk kesungguhan hati komunitas pendidikan,” katanya.

Taufik berharap DKI Jakarta tidak hanya berhasil menyelenggarakan UN tetapi juga sukses mendapatkan hasil UN yang baik. “Kami berharap reputasi pendidikan di Jakarta semakin meningkat serta menjadi lompatan untuk kemajuan pendidikan ke depan,” katanya.

Hasil ujian nasional pengumumannya dilakukan hari ini dengan berbagai cara seperti internet, pos situs resmi, dikdis.co.id, dan sebagainya. Komponen penilaian untuk kelulusan siswa, yakni hasil ujian nasional, nilai sikap, dan nilai ujian sekolah.ant/bur

Sumber Republika Online

Diterbitkan di: on Juni 20, 2009 at 2:11 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

PILPRES 2009 HARUS LAHIRKAN KEPEMIMPINAN PRO RAKYAT

By Republika Newsroom
Kamis, 11 Juni 2009 pukul 23:19:00

JAKARTA–Pemilu Presiden (Pilpres) 2009 harus mampu melahirkan kepemimpinan yang mengangkat kesejahteraan rakyat, sejalan dengan aspek keadilan dan hak-hak sipil masyarakat.

Demikian dikatakan pengamat politik Bara Hasibuan dalam diskusi bertajuk “Mencegah Kemunduran Demokrasi Pasca-Pilpres 2009″ di Jakarta, Kamis.

Dikatakannya, pertumbuhan ekonomi memang diperlukan, namun konsolidasi demokrasi harus tetap berjalan dalam rangka mewujudkan kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Bara, di era pemerintahan Orde Baru, Soeharto mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga tujuh persen, namun semua itu harus dibayar mahal dalam bentuk pelanggaran HAM, korupsi merajalela, kebocoran anggaran hingga 30 persen, pertumbuhan ekonomi yang tidak merata.

Kondisi itu, kata Bara, sama dengan yang dialami Rusia di bawah pemerintahan Vladimir Putin yang mengejar pertumbuhan ekonomi, tapi terjadi kemunduran demokrasi.

“Karena itu, kita tidak ingin pascapilpres nanti agenda demokrasi terabaikan, sehingga bangsa ini tak akan mampu mengakhiri transisi demokrasi,” katanya.

Pengamat politik UGM Arie Sujito menilai, selama satu dekade reformasi, capaian-capaian demokrasi dan demokratisasi telah menjadi fakta historik dan banyak terobosan yang berarti, yang diinisiasi oleh pemerintah dan parlemen, untuk meletakkan dasar bagi capaian perubahan sebagaimana mandat reformasi.

Dikatakannya, kemajuan di bidang hak-hak sipil dan politik menunjukkan “magnitude” yang luar biasa, jauh dibandingkan era sebelumnya demi terwujud regulasi yang bertujuan mengembalikan tanggungjawab negara sesuai mandat konstitusi.

“Hubungan sipil-militer yang sempat mengalami pasang surut di era Gus Dur dan Megawati, kini mampu kembali dikembalikan. Artinya, pemerintah telah berhasil mengurangi keterlibatan negara di bidang politik. Ini perlu dilanjutkan,” katanya.

Arie menambahkan, agenda reformasi birokrasi juga berjalan dengan baik. Ide-ide pemberantasan korupsi untuk memperkuat pemerintahan yang bersih perlu dilanjutkan dan mendapat apresiasi dari masyarakat.

Selain itu, upaya pengentasan kemiskinan meningkat di daerah-daerah melalui rasionalisasi APBD yakni anggaran untuk birokrasi menurun, sementara anggaran untuk kepentingan masyarakat semakin meningkat.

Arie juga menilai terjadi peningkatan kualitas dalam beberapa tahun belakangan, seperti di Aceh tercipta perdamaian, Papua juga semakin kondusif meski perlu terus didorong upaya-upaya yang lebih positif.

“Semua ini membuktikan keberhasilan yang sudah dicapai oleh pemerintah di era SBY sekarang ini,” katanya. ant/pur

SUMBER : REPUBLIKA ONLINE

Diterbitkan di: on Juni 20, 2009 at 1:57 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

JANGAN UNDERESTIMATE BRO!

Sekali kita underestimate terhadap diri sendiri, kita akan rugi,
karena potensi kita akan terkungkung oleh batas yang terlalu
sempit dibandingkan dengan batas yang sebenarnya.
Cacat atau kekurangan lainnya memang akan membatasi
kebebasan kita di suatu sisi. Namun kebebasan itu banyak dan
bermacam-macam, jika salah satu kebebasan kita terpenjara,
kita masih bisa mencari kebebasan yang lainnya.

MAU KUNCI JAWABAN UN 2009?

Siapa yang tidak mau lulus dalam UN 2009? pasti semua mau pada lulus, soal jawaban pasti juga mau pada punya yang Instan, bener khan…. Udah udah nanti dikasih do’a yang mujarrab sekarang mah Belajar yang giat ke www.banksoal.sebarin.com

Diterbitkan di: on April 3, 2009 at 9:34 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

TEKHNIK INVESTASI STRATEGIS CARA JUTAWAN

Tehnik Investasi Strategis Cara Jutawan Tehnik ini biasa digunakan oleh jutawan dalam menggandakan uang mereka. Terdapat 3 prinsip simpanan yang biasa mereka gunakan. Prinsip Pertama: Lebih cepat anda menyimpan lebih senang Tahukah anda seseorang yang berumur 25 tahun menyimpan sebanyak Rp 100.000 sebulan (Rp1.200.000 setahun) akan mengumpul sebanyak Rp349.000.000 apabila beliau berumur 65 tahun (bunga sebanyak 8% setahun)? Jika beliau bertangguh selama setahun, “kerugian” sebanyak Rp27.800.000. Jika beliau menunggu selama 5 tahun, jumlahnya berkurang sebanyak Rp120.000.000 setelah mencapai tempo pensiunan, dan jika menunggu sehingga 10 tahun LAGI, jumlahnya akan berkurang sebanyak Rp200.000.000!. Dengan Rp100.000 sebulan, jumlah yang disimpan selama 10 tahun ialah Rp12.000.000 tetapi kekayaan yang hilang ialah Rp200.000.000. Ini adalah satu dampak daripada bunga compound yaitu uang yang disimpan di bank akan dikenakan bunga setiap tahun. Ia seperti pengembala kambing yang mendapat 2, 4, 8, 16, 32, 64, 128, 256 dan seterusnya apabila kambing-kambingnya beranak dan beranak. Adalah sesuatu yang sangat rugi jika anda masih menunggu, dan ia seakan tragedi jika anda tidak menyimpan sedikitpun. Jadi, mulailah menyimpan hari ini juga!. Prinsip Kedua: Kapan anda menyimpan sama penting dengan berapa banyak anda menyimpan Umpamanya dua orang yang sama umurnya telah menyimpan Rp5.000.000 setahun selama 15 tahun. Jumlahnya ialah Rp75.000.000. Orang yang pertama menyimpan dari umur 20 hingga 35, sebelum berkawin. Orang yang kedua menyimpan jumlah yang sama tetapi setelah anak-anaknya bekerja. Beliau menyimpan sebanyak Rp75.000.000 dari umur 55 hingga 65. Sewaktu berumur 65 tahun, orang yang pertama tadi, jumlah simpanannya menjadi Rp750.000.000! – 10 kali daripada jumlah yang disimpan. Ia merupakan satu perbedaan yang besar daripada orang yang kedua yang hanya mengumpul Rp75.000.000, walaupun kedua-duanya menyimpan dalam jumlah yang sama. Perbedaannya ialah bukan berapa banyak yang disimpan tetapi kapan simpanan itu mulai dibuat. Kesimpulannya ialah kita perlu menyimpan sebanyak mungkin dan seawal yang mungkin!. 2 Prinsip Ketiga: Berapa banyak yang anda simpan adalah lebih penting daripada berapa banyak penghasilan anda Nampaknya seperti membingungkan, tetapi anda tidak perlu mempunyai penghasilan besar untuk menjadi kaya. Di negara maju, banyak orang dengan penghasilan biasa saja telah menjadi kaya karena mereka berhemat dan menyimpan lebih banyak daripada orang lain. Mereka yang dengan konsisten bisa menyimpan lebih daripada 10 persen akan menjadi lebih kaya dengan cepat daripada mereka yang tidak menyimpan. Contohnya satu keluarga yang berpenghasilan Rp30.000.000 setahun. Katakanlah mereka berhemat-cermat dan berhasil menyimpan 25% daripada penghasilannya sebulan dibank, menjadi Rp7.500.000 setahun (Rp625.000 sebulan). Setalah 25 tahun, penghasilan yang dikumpulkan ialah Rp594.000.000. Sekarang bandingkan dengan keluarga yang berpenghasilan Rp50.000.000 setahun, tetapi mereka suka berbelanja dan berfoya-foya dan hanya menyimpan sebanyak 5% daripada penghasilannya atau Rp2.500.000 setahun (Rp208.333 sebulan). Setalah 25 tahun, penghasilan terkumpul dibank ialah hanya Rp 198.000.000 Sekarang anda sudah mengetahui rahasia tehnik investasi yang biasa digunakan oleh professional dan jutawan. Bincangkan bersama-sama keluarga anda dan saya harap anda dapat menyimpan secepat mungkin!

Diterbitkan di: on April 3, 2009 at 9:31 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

CARA KARYAWAN NAIK GAJI 4X SETAHUN

Cara Karyawan Bisa Naik Gaji Empat Kali dalam Setahun Membuat Ni lai Tambah Nilai tambah pertama yang harus selalu ada adalah bisa dipercaya. Bila kita ketahuan melakukan penggelapan, manipulasi, atau penipuan di perusahaan, baik besar maupun kecilkecilan, sudah pasti kita sulit dipromosi atau naik gaji secara maksimal. Bisa dipercaya adalah fondasi yang paling mendasar di seluruh bidang kehidupan. Bayangkan apabila Anda seorang pemilik perusahaan atau seorang atasan yang membutuhkan karyawan untuk dipromosi dan diberi tanggung jawab yang lebih besar, atau bahkan untuk diajak menjadi partner. Sudah pasti yang dipilih adalah orang yang dapat dipercaya. Nilai tambah yang kedua, kita harus menghasilkan lebih daripada yang kita terima, lebih dari karyawan yang lain. Yang dimaksud lebih dari yang kita terima adalah bila gaji kita 100, kita harus memberi lebih dari 100 dan bila kita hanya memberi 100, kita pas dan layak untuk tidak naik gaji. Yang dimaksud lebih dari karyawan yang lain adalah memberikan kinerja yang lebih hebat daripada sesama karyawan pada level yang sama. Kenapa kita layak untuk naik gaji setahun empat kali? Karena kita mempunyai prinsip 1-3-5. Yaitu 1 karyawan digaji 3 kali lipat dari rata-rata karena mempunyai produktivitas 5 kali lipat dari rata-rata. Perlu selalu diingat, prinsip mengenai nilai tambah: Hidup adalah nilai tambah, tapi kalau semua hidup, berarti hidup bukan lagi nilai tambah melainkan nilai standar. Jujur adalah nilai tambah, tapi kalau semua jujur, berarti jujur bukan lagi nilai tambah melainkan nilai standar. Mencapai target 100% adalah nilai tambah, tapi kalau semua mencapai target 100%, berarti mencapai target 100% bukan lagi nilai tambah melainkan nilai standar. Untuk bisa lebih daripada karyawan lain, kita harus menggunakan jurus ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Setiap ada karyawan lain, cabang lain, perusahaan lain yang lebih sukses, amati secara detail, teliti bagaimana bisa meniru, dan kalau perlu melakukan modifikasi tertentu dengan cara mengubah atau rnenambahkan sesuatu. Nilai tambah yang ketiga adalah inisiatif untuk menyelesaikan masalah. Tidak perlu menunggu sampai disuruh. Hindari kecenderungan untuk menyalahkan orang lain, atasan, situasi, anak buah, tetapi tunjukkan inisiatif untuk menyelesaikan masalah tersebut. Ketika kita tahu ada yang tidak beres, kita tidak BEJ (Blame, Excuse, Justify) tapi berinisiatif untuk menyelesaikan masalah. Nilai tambah yang keempat adalah berperilaku menyenangkan. Jaga penampilan, kedisiplinan, kesopanan, omong balk di depan dan di belakang. Orang yang omong jelek di belakang sama sekali tidak menyenangkan. Mengomunikasikan Prestasinya kepada Orang yang Tepat Bila kita sudah mempunyai nilai tambah, kita harus komunikasikannya. Orang yang mempunyai nilai tambah yang lebih dari karyawan lain yang tidak mengomunikasikan tetap bisa naik gaji dan dipromosikan, tapi akan makan waktu lebih lama. Komunikasikan hal itu kepada orang yang tepat, yaitu atasan atau pemilik perusahaan. Kalau kita hanya mengomunikasikan prestasi kita kepada prang yang tidak tepat, kita hanya mendapat pujian “Wah… hebat”, tetapi tidak naik gaji dan dipromosikan. Mencapal Prestasi itu Berkali-kali Kita akan dipromosikan bila mencapai prestasi berkali-kali (dalam jumlah yang banyak, mungkin juga dengan perusahaan yang lain).Bila kita mengomunikasikan prestasi kita kepada atasan kita sendiri, bisa jadi atasan kita masih tenang-tenang saja, dan kita tidak mendapatkan kenaikan gaji atau promosi. Sebaliknya, bila banyak prang dari pemilik perusahaan atau atasan perusahaan yang lain mengetahui nilai tambah kita, kita akan menerima banyak tawaran kenaikan gaji dan promosi dari luar. Saran saya: biarkan atasan kita sendiri tahu adanya penawaran dari perusahaan atau atasan yang lain, sehingga kita akan jadi rebutan. Selalu ingat prinsip ini yang sudah kita ungkap di atas: kalau kita mau menjual, yang beli minimal harus ada dua; kalau kita mau membeli, yang jual minimal harus ada dua. Dengan Cara yang Tepat Yang dimaksud dengan cara yang tepat adalah isinya tepat, sarananya tepat, waktu dan tempatnya tepat. Isi yang tepat: Bila mau usul, selalu gunakan kata-kata, “Menurut pengalaman Bapak…, bila kita melakukan …. (isi sendiri usulan Anda), mungkinkah kita menjadi seperti …. (isi sendiri hasil yang Anda perkirakan).” Bila tidak setuju dengan pendapat atasan kita, gunakan pihak ketiga. Contoh: “Menurut pengalaman Bapak… misalnya ada customer yang keberatan akan (isi sendiri keberatan Anda) kita sebaiknya harus bagaimana?” Bila mau mengomunikasikan nilai tambah kita, katakan: “Selamat Pak! Berkat Bapak bulan ini kita mencapai …. (isi prestasi yang sudah Anda capai).” Sarana yang tepat adalah bertemu, komunikasi empat mata. Presentasikan prestasi Anda pada waktu rapat tahunan. Ikuti perkumpulan asosiasi manajer atau bisnis, sehingga Anda diketahui orang banyak. Waktu dan tempat yang tepat adalah ketika mood atasan Anda sedang baik. Bagaimana bisa tahu hal itu? Tanyakan pada sekretarisnya.

Petisi: Dari berbagai sumber

Diterbitkan di: on April 3, 2009 at 9:29 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Pesantren Harus Memiliki Spesifikasi Keilmuan


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

WAWANCARA DENGAN GUS SHOLAH

Banyak pesantren belakangan ini berlomba-lomba mendirikan pendidikan umum di lingkungan pesantren. Pada tingkatan tertentu, pembelajaran keilmuan agama yang selama ini menjadi cirikhas pesantren bahkan cenderung dinomorduakan. Memang belum sampai pada tahap dihilangkan, tapi sudah banyak santri dan juga pesantren yang mengedepankan sekolah yang berorientasi pada’ijazah’. Bagaimana menyikapi persoalan tersebut? Muhtadin AR dan Subhan (MS) dari www.pondokpesantren.net mewawancarai KH. Solahuddin Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Solah (GS), Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang untuk memotret persoalan tersebut.

MS : Bagaimana perkembangan pesantren dan pendidikan saat ini?

GS: Saya melihat di pesantren ini ada semacam kegamangan atau ketidakjelasan, yakni keinginan untuk memadukan pendidikan umum dan pesantren. Saya lihat dua-duanya tidak tercapai. Pendidikan diniyahnya tertinggal, dan pendidikan umumnya juga tidak mencapai suatu tingkatan yang tinggi. Oleh karena itu, mulai tahun ini (2009) di Tebuireng saya mencoba kembali mendirikan kegiatan mu’alimin enam tahun tamatan MI atau SD yang khusus belajar ilmu agama. Di sini tidak ada sama sekali pendidikan umum dan tidak ada ujian. Kalau mau ijazah, mereka akan melakukan ujian sendiri, melalui ujian persamaan. Apakah itu Tsanawiyah atau Aliyah. Apakah itu SMP atau SMA. Nanti kalau tanpa ijazah bisa juga mereka masuk ma’had ’aly. Dari ma’had ’aly selevel S1 bisa melanjutkan S2 dan seterusnya di luar negeri mungkin.

Saya tak tahu pasti hal-hal seperti ini dapat mengembalikan pendidikan keagamaan di Tebuireng. Tentunya perlu waktu, perlu kerja keras, dan perlu dukungan-dukungan yang lainnya untuk dapat terwujud. Sedang untuk pendidikan yang lain, SMP dan SMA, saya mencoba meningkatkan kemampuan mereka. Dari segi pengajaran dan dari segi kognitif, yakni dengan mencoba melakukan pelatihan guru-guru melalui IKIP Surabaya (sekarang UNESA), yang dimulai tahun ini dengan guru-guru mata pelajaran UAN. Dan hasil yang dicapai adalah meningkatnya angka rata-rata dan meningkatnya lulusan Tebuireng yang masuk perguruan tinggi terkemuka.

MS: Sekarang ini ada UU no. 20 tentang Sisdiknas yang didalamnya beberapa pasalnya secara implisit berbicara tentang pesantren. Seberapa efektif aturan semacam ini?

GS: Belum nampak. Perpes-nya kan masih baru. Kami juga masih menunggu Peraturan Menteri tentang itu yang sampai sekarang belum ada. Tentunya itu satu peluang yang baik. Supaya pendidikan pesantren mendapat perhatian yang cukup dari pemerintah. Selama ini pendidikan pesantren terlupakan. Nah, tadi yang saya lakukan baru kognitif, padahal konsep pendidikan tidak hanya hal itu saja. Juga afektif dan psikomotorik, yang afektif ini yang perlu dibenahi. Perlu membentuk karakter para tamatan pesantren. Orang yang positif tentunya, orang yang percaya diri orang yang akhlaknya baik., orang yang mampu berkomunikasi dengan baik, dan seterusnya. Dan hal inilah yang cukup sulit dibandingkan yang kognitif tadi misalnya. Jadi hal ini adalah tantangan kita bersama. Bagaimana mewujudkan santri-santri yang berakhlak baik, orang yang amanah, orang-orang yang betul-betul menjadi orang Islam dalam artian yang sebenarnya.

Kalau mau jujur, Islam tertinggal jauh sekali. Indonesia sudah 60 tahun lebih merdeka, kita juga telah punya tokoh-tokoh pengetahuan dari kalangan Islam, tetapi tidak mengalami pengetahuan seperti yang seharusnya. Banyak umat Islam yang tertinggal dalam pendidikan maupun dalam kesejahteraan. Syukur bahwa, katakanlah dulu banyak orang-orang abangan yang kini menjalankan kegiatan keagamaan dengan baik. Hanya saja saya masih melihat ada jarak antar Islam sebagai pengetahuan dengan perilaku. Bagaimana menjembataninya? Karena kalau tidak demikian, orang-orang Islam tidak akan maju.

MS: Ada tiga aspek yang dikenal dalam pendidikan pesantren dewasa ini. Aspek pendidikan agama, aspek pengembangan masyarakat, dan aspek ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti yang Gus Sholah sebut tadi, dalam kaitannya dengan tingkat pemahaman keagamaan masyarakat dan peran pesantren, apakah pesantren belum maksimal dalam berkomunikasi dengan masyarakat?

GS: Saya tak begitu tahu. Tapi kalau di Tebuireng kami, khususnya saya pribadi, mencoba untuk terus menjalin kontak dengan masyarakat. Kalau misalnya saya diundang tetangga, jika saya ada di Tebuirenga, pasti saya akan datang. Demikian juga, saya mengundang mereka untuk halal bi halal di rumah dan ternyata hal itu mendapatkan sambutan. Tapi kan tidak cukup dengan itu.

Sebetulnya, pesantren juga diharapkan menjadi agen perubahan, agar masyarakat menjadi lebih maju. Tetapi hal itu kan harus dimulai dari pesantrennya sendiri. Kalau pesantrennya tidak maju bagaimana bisa memajukan masyarakat? Dan saya melihat pesantren Tebuireng itu maju sekali, tetapi belakangan kan tidak. Dan untuk kembali ke posisi yang dulu, itu bukan pekerjaan yang mudah. Membutuhkan kerja keras, membutuhkan ketekunan, dan macam-macam termasuk dana juga keberuntungan. Dan ini tantangan yang luar biasa. Saya pikir banyak pesantren seperti Tebuireng ini, yang dulunya hebat sekarang biasa-biasa saja.

Kalau untuk pendidikan yang ada standar nasionalnya, misalnya ujian UAN, kita punya cara untuk melihat posisi kita di mana. Tebuireng ini sebenarnya termasuk kelas menengah. Dalam segi pengajaran kami ingin meningkatkan menjadi kelas menengah atas, dan kelas atas dalam tempo enam tahun. Mudah-mudahan berhasil. Tapi untuk pendidikan agama, saya tidak tahu apa ada standarnya. Standar pendidikan pesantren. Mestinya harus ada untuk mengukur tingkat kemajuan suatu pesantren. Kalau tidak ada kita tidak akan punya ukuran standar yang sama untuk mengukur pendidikan pesantren. Dan saya pikir hal ini kalau dilakukan akan bagus sekali.

MS:  Sekarang ini ada beberapa pesantren yang berinisiatif mengembangkan Mahad ’Aly sebagai suatu konsep pendidikan pesantren. Pemahaman santri tentang konsep agama, dinamika fiqh, mungkin dapat tercover dengan adanya model Mahad ’Aly ini.

GS: Justru itu. Saya tak tahu seberapa banyak sistem pendidikan Mahad ’Aly ini. Nah ini perlu ada standar. Kalau STAIN, terlihat sudah terlalu banyak. Dan saya tidak tahu apakah di sana sudah ada standar atau tidak. Kita harus memilih standar, dan standar itu jangan terlalu rendah. Kalau demikian kita tidak punya suatu perbandingan dengan dunia internasional.

MS: Standar seperti apa?

GS: Artinya kita harus ada upaya khusus menyusun standar itu. Dan jangan ragu-ragu menetapkan standar yang tinggi, dan jangan juga menurunkan standar itu. Kalau standarnya tidak tercapai, kalau menurut saya ya jangan dinaikkan tingkat. Tanpa itu nampak berat bagi kita, dan tidak akan mencapai kemajuan. Jadi betul-betul kita harus menjaga mutu dari perguruan tinggi ini.

MS: Seberapa besar alumnus pesantren memberikan kontribusi untuk perkembangan pesantren?

GS: Saya tidak tahu pasti, karena tidak ada data-data tentang itu. Paling tidak saya tidak pernah mendengar bahwa, katakanlah anggota DPR alumni Tebuireng atau pesantren yang lain bersuara memihak pesantren atau madrasah.

Saya mempunyai data bahwa guru yang ada di Indonesia itu ada 2,8 juta, swastanya itu hampir 1 juta sembilan ratusan. Dan saya yakin guru swasta itu 80 persennya adalah lulusan lembaga pendidikan Islam. Dan saya kira mereka dianaktirikan. Tidak ada upaya melatih mereka.

Perlu diketahui saja. Ada upaya dari Depdiknas, untuk mengetahui uji kompetensi guru, termasuk guru aliyah. Ada datanya tentang hal ini. Saya tidak tahu apakah hal ini diketahui para pengajar atau tidak. Ini datanya. Untuk MI dan SD dari 285 guru, yang memenuhi standar untuk menjadi guru IPA, itu sama sekali tidak ada. Kompetensi untuk pengajar IPA itu nol. Untuk Bahasa Indonesia hanya satu orang. Untuk Matematika 181 orang. Untuk IPS 85 orang. Bayangkan! Uji kompetensi guru di satu kabupaten. Saya kira untuk jenjang pendidikan berikutnya (Mts atau SMP, MA atau SMA) juga tidak jauh beda hasilnya. Artinya apa? Ini sudah termasuk guru negeri lo! Artinya memang mutu guru kita memang tidak layak. Dan itu tidak pernah disadari. Oleh Depdiknas maupun oleh Depag. Jadi kita harus berkiblat kepada luar negeri, standar guru harus kita buat. Kalau tidak mau jadi apa orang Indonesia itu. Kita harus berani mengoreksi diri kita dengan kejam.

Saya tidak tertarik untuk mempelajari dunia pendidikan sebelum di Tebuireng. Setelah saya di Tebuireng, saya melihat betapa parahnya. Kalau saya jadi pemerintah, untuk pesantren, carilah sepuluh atau limabelas pesantren yang punya sejarah baik, mau serius memperbaiki mutunya, itu kita beri darah, kita beri dukungan. Tidak hanya sekedar keluar dana begitu saja. Harus kita bantu untuk meningkatkan mutu, dengan bantuan dana. Kalau tidak begitu, tak mungkin kita dapat mengejar.

MS: Di satu sisi pesantren harus mengejar mutu atau kualitasnya. Di sisi yang lain pesantren dihadapkan pada kompetensi dengan sekolah-sekolah umum. Bagaimana pesantren mengahadapi masalah semacam ini?

GS: Seperti yang saya katakan tadi. Kalau mau belajar agama, ya agama. Belajar umum, ya umum silahkan. Jangan campur aduk. Tidak mungkin orang mengerti agama, juga mengerti umum.

MS: Jadi perlu ada spesifikasi pesantren?

GS: Ya. Kalau mau di pengetahuan umum, apa fungsi agama? Mendidik akhlak mereka. Ya mereka diajari agama di pondokan. Malah kalau mungkin, lulus dari Tebuireng misal, dengan waktu enam tahun mereka bisa hafal Juz Amma, hafal surat-surat yang terkenal. Nah, mereka dapat memahami agama sebagai sumber kehidupan. Jadi perilaku mereka dikontrol oleh agama. Jadi fungsi agama dalam rangka pembentukan karakter dan pembentukan akhlak. Mau kita beri ilmu agama, ya tidak mungkinlah. Nanti llmu agamanya jadi setengah matang saja. Yang umum juga begitu. Kalau mau belajar ilmu agama, monggo silahkan belajar ilmu agama. Dalam waktu enam tahun, ditambah belajar di Mahad ’Aly, tahap dasar dapat dikuasai. Nanti mereka memperdalam lagi.

MS: Konkritnya di tingkat pesantren itu terlihat database para siswa ke mana orientasi mereka ke depan.

GS: Tapi apa mungkin orang masuk pesantren enam tahun mendapat semua yang diajarkan di pesantren. Pasti tak banyak yang mereka dapat. Enam tahun itu waktu yang pendek. Jadi enam tahun mereka belajar yang salaf, ditambahkan empat tahun di Mahad ’Aly, ini sudah cukup lumayan. Dan tentu masih perlu pendalaman yang lebih jauh lagi. Bisa ambil S2 atau S3 dan seterusnya. Kalau ambil Mts, SMP, MA, dan SMA, ya tidak ada yang dihasilkan. Paling memberi dasar-dasar keilmuan mereka yang cukup.

Pembentukan sikap yang mau belajar. Sikap yang tidak mudah menyerah. Sikap percaya diri. Menjadi orang yang mudah berkomunikasi. Bisa memimpin. Itu menurut saya yang harus kita lakukan.

MS: Ada kecenderungan kecemburuan sosial di kalangan pesantren (yang notabene telah mapan dengan metode sorogan) sehingga ada upaya untuk memaksakan diri memasukkan metode classical.

GS: Hal itu ada plus dan minusnya. Sekarang yang enam tahun di Tebuireng juga classical. Tapi betul-betul mendalami ilmu agamanya. Jadi yang penting mereka itu mendalami satu ilmu. Sampai tahap yang cukup baik kemudian meninggalkan Tebuireng dan mengembangkan ilmu mereka. Jadi yang penting, pengertian tentang ilmu yaitu keinginan untuk belajar terus. Hal itu yang harus ditanamkan.

Pesantren sorogan juga bagus. Tidak ada yang salah dengan itu. Classical pun menurut saya juga bagus. Tergantung dari mana kita melihatnya. Dan sekali lagi saya tekankan, tidak mungkinlah satu orang belajar dua ilmu, kecuali sekolahnya dua puluh lima tahun. Tapi sudah tua kan kalau begitu kita kan.

MS: Sekarang ini ada semacam kekhawatiran bahwa mereka tidak akan diperhatikan Departeman Agama kalau tidak memiliki sekolah umum (MA misalnya).

GS: Justru di sini. Mestinya Departemen Agama membantu pesantren-pesantren seperti ini (non-classical). Mereka membuat sekolah yang tadi itu (campuran antara umum dan agama) untuk mendapatkan perhatian pemerintah atau Departemen Agama. Departemen Agama seharusnya juag harus aktif, memperjuangkan anggaran untuk pesantren. Menurut saya sampai saat ini memang pesantren dianaktirikan betul. Saya pun kalau tidak mengurusi Tebuireng tak akan ngerti soal ini. Dan saya akan bersuara terus untuk itu.

MS: Dengan jumlah yang sangat besar, seberapa besar pesantren memberikan kontribusinya pada bangsa ini?

GS: Saya pikir dari segi jumlah pesantren sudah oke. Tapi yang penting kan mutu. Dan sekali lagi kita lihat apakah standar mutunya ada apa tidak. Kemudian sejauh mana kita dapat mendata klasifikasi pesantren. Kalau perguruan tinggi negeri kan ada. Bahkan di luar negeri, terserah negeri atau tidak, sudah ada klasifikasi tertentu. Nah pesantren ini bisa tidak memiliki klasifikasi seperti ini? Berdasarkan mutunya, tidak hanya jumlah. Dan menurut saya itu harus dilakukan Departemen Agama. Kenapa? Karena pesantren ini adalah modal yang kita punyai ratusan tahun lamanya. Dan ini menuju ke arah yang merosot kalau menurut saya. Dan kalau tidak di-dandani, di-openi, dan dibantu, saya khawatir kondisinya akan semakin benar-benar merosot. Kecuali sejumlah pesantren tertentu saja. Mungkin jumlahnya dari 14.000 itu tak mencapai seratus. Kan sayang kalau itu tidak ditangani dengan baik.

MS: Kemudian, konsep Gus Sholah mengenai gagasan tentang bagaimana pesantren mampu menjembatani kebutuhan masyarakat, mungkin di sisi ekonomi, atau sisi budaya?

GS: Nah, itu saya baru mulai mau mengarahkan ke sana. Dan tentunya hal itu mudah diomongkan, tetapi susah untuk dikerjakan. Saya baru mencoba membuat BMT tahun depan dengan dibantu sebuah lembaga perbankan. Jadi kami ingin mencari warga yang punya kegiatan mikro, nanti kami bisa menjadi chaneling bagi pihak-pihak pemilik modal untuk membantu mereka dengan pendampingan. Dan ini kami mulai mendidik para pendampingnya dulu. Ini bagian dari upaya untuk memberikan manfaat pada masyarakat, membuat Tebuireng menjadi bagian dari masyarakat. Tapi itu membutuhkan waktu, juga tenaga. Kami juga baru memulai kegiatan ekonomi dengan mengolah tanah yang selama ini konvensional, menggantinya dengan cara-cara yang lain.

MS: Dengan kondisi pesantren seperti ini, apakah ada kepentingan politis sehingga pesantren terkesan mendapat tekanan untuk berkembang?

GS: Siapa yang mempunyai kepentingan politis? Kalau pemerintah itu kan kita-kita juga. Pemerintah adalah penyelenggara di negara ini. Ada DPR, ada eksekutif. Di DPR sudah banyak yang berasal dari kalangan santri, baik dari NU maupun dari Muhamadiyah. Di eksekutif, di Departemen Agama juga sudah banyak orang-orang dari kalangan pesantren. Jadi tidak ada kepentingan politis itu. Kita saja yang tidak mau memperjuangkan. Kalau kemarin kita memang tidak memiliki dasar. Tapi sekarang kita memiliki undang-undang Sisdiknas, yang memberi porsi dan posisi yang sama sederajat. Nah, porsinya saja yang sekarang ini belum sama. [ ]

Diterbitkan di: on April 3, 2009 at 9:26 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Da Vinci Code Mengguncang Iman Kristiani

Oleh Amirah Latifah

Novel Dan Brown, The Da Vinci Code, menguak sejarah Yesus dan Gereja yang selama 2000 tahun terkunci rapat. Otoritas gereja kelimpungan membuat tangkisan.

Novel bermuatan agama nampaknya selalu mengundang kontroversi. Ini juga berlaku buat novel The Da Vinci Code. Mungkin, karena kontroversial, novel keempat Dan Brown ini menjadi novel terlaris tahun 2003 dengan total penjualan 5,7 juta eksemplar. Rekor penjualan selama 10 tahun yang dipegang novel The Bridges Over the Madison Country karya James Waller yang terjual 4,3 juta eksemplar pun terpecahkan .

Sejak terbit Maret 2003 lalu, sampai sekarang The Da Vinci Code sudah terjual lebih dari 20 juta kopi. Sepanjang 2003-2004, bisa jadi inilah buku yang paling sensasional. Selama 56 pekan (1 tahun 1 bulan), ia bertengger di puncak daftar buku fiksi terlaris versi The New York Times. Kini penerbitnya, Doubleday, masih terus mencetak buku yang telah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa itu.

Di Indonesia, buku impor yang dibanderol Rp 65.500 untuk versi soft cover dan Rp 265.700 untuk hard cover juga laku keras. Sejak diterjemahkan penerbit Serambi, Juli lalu, kini sudah mengalami 9 kali cetak. Apalagi, setelah belasan media cetak berbahasa Inggris mengulas isinya. Di toko-toko buku, The Da Vinci Code dipajang mencolok. Beberapa toko buku di Jakarta sampai kehabisan stok thriller fiksi itu.

Saking larisnya, Columbia Pictures sudah melepas banyak duit untuk membeli hak ciptanya. Bintang-bintang Hollywood, seperti Russel Crowe, George Clooney, dan Tom Hanks yang biasanya jual mahal kalau ditawari main film, kini beramai-ramai melamar jadi pemain. Sebuah tim solid dengan sutradara Ron Howard, penulis skenario kelas berat, Brian Grazer dan John Galley, tengah bekerja keras untuk film yang bakal dirilis ada awal tahun 2006 itu.

Trio Howard, Grazer dan Goldsman adalah orang yang sama yang telah melahirkan Beautiful Mind pada tahun 2001. Film yang dibintangi aktor Australia, Russel Crowe itu menyabet dua buah Academy Award. Tak heran apabila Columbia Pictures yakin film The Da Vinci Code bakal mengguncang pasar. Saking optimisnya, perusahaan film inipun sudah membeli hak cipta karya Brown lainnya, Angels and Demons.

The Da Vinci Code memang fenomena. Sejak nongol sampai sekarang, novel tersebut memicu terbitnya 10 buku “perlawanan”. Semuanya mencoba mematahkan argumentasi yang ada di dalam The Da Vinci Code. Salah satu buku tandingan itu, Fact and Fiction in The Da Vinci Code karya Steven Kellemeier, telah diterjemahkan oleh penerbit Optima Press, Jakarta, Februari lalu.

Tak cuma itu. Beberapa gereja lokal pun menawarkan brosur dan studi pendampingan bagi mereka yang usai membaca novel itu, dan mempertanyakan iman kekristenannya. Sejumlah negara juga melarang peredarannya. Salah satunya adalah Libanon. Otoritas keamanan negara itu melarang novel yang isinya dinilai sangat bertentangan dengan keyakinan penganut Yesus dan melawan otoritas Gereja tersebut.

Mengapa para teolog, pastor, dan pendeta kelimpungan hingga sampai sibuk memberikan tangkisan? Jawabnya, “Buku itu telah menyerang sendi-sendi iman Kristen, sebab itu kami mesti bicara,” kata Erwin Lutzen, pastor senior Moody Church di Chicago, Amerika Serikat, penulis The Da Vinci Deception, seperti ditulis International Herald Tribune.

Meskipun cuma fiksi, Dan Brown yang populer lewat novel Digital Fortress membuka lembaran pertama novelnya dengan judul “Fakta”, “Biarawan Sion, perhimpunan rahasia yang dibentuk pada 1099, adalah organisasi nyata. Pada 1975, Bibliotheque Nationale dari Paris menemukan perkamen yang dikenal sebagai Les Dossiers Secrets, yang mengidentifikasi sejumlah anggota Biarawan Sion, termasuk Sir Isaac Newton, Botticelli, Victor Hugo, dan Leonardo Da Vinci”. Pada akhir halaman ini, ditulis : “Semua deskripsi, arsitektur, dokumen, dan ritual rahasia dalam novel ini akurat.”

Brown mengawali cerita dengan terbunuhnya Jacques Sauniere, seorang kurator di Museum Louvre, Paris. Di tubuh korban dan sekitar lantai, penuh coretan simbol yang menarik perhatian. Lalu muncul Profesor Robert Langdon, pakar simbolisme religi dari Universitas Harvard, Amerika, dan Sophie Neveu, seorang ahli membaca sandi atau cryptographer yang tertarik pada kasus itu. Si cerdas dan perempuan Paris nan cantik berambut burgundi itu pun sepakat menguak misteri itu.

Mereka mendapat informasi, ternyata korban mewarisi mantel Leonardo. Mantel itu menjadi penanda bahwa korban tak lain adalah pemimpin komunitas rahasia : Biarawan Sion. Kelompok itu bertugas menjaga The Holy Grail atau cawan suci. Dari situ, jalinan cerita makin seru dan rumit. Dalam penyelidikannya, Langdon dan Sophie dihadapkan pada berbagai alat bukti yang butuh penafsiran. Mereka juga bertemu dengan Sir Leigh Teabing, sejarahwan yang kaya raya.

Teabing inilah yang nantinya berperan dalam mengungkap tanda tersembunyi pada jalinan teks kitab suci dengan berbagai karya seni, arsitektur, dokumen, mitologi, sejarah gereja, dan ajaran dari sekte-sekte kristen. Dalam pencariannya, mereka harus terbang dari Paris ke London. Mereka dibuntuti seorang rahib bernama Silas dari kongregasi Opus Dei. Opus Dei itu didirikan seorang pastor asal Spanyol, Josemaria Escriva, 1928. Ini sekte Katolik yang amat taat, yang banyak menyulut kontroversi.

Cerita menjadi seru karena mereka juga diburu polisi khusus Prancis, yang menduga Langdon sebagai pembunuh Sauniere. Sebelum akhirnya cerita kembali lagi ke Louvre, tempat pembunuhan terjadi, pembaca dihadapkan pada serentetan kode, teka-teki, misteri, dan cerita konspirasi yang memukau. Sampai akhirnya, terbongkarlah konspirasi yang sudah berlangsung 2000 tahun yang terkait dengan sejarah agama Kristen, Yesus, dan Biarawan Sion di masa lalu yang melibatkan tokoh kondang., seperti Leonardo Da Vinci, Isaac Newton, Botticelli, dan Victor Hugo.

Brown lihai membangun cerita lewat dialog yang lahir dari Sophie dengan Langdon, Sophie dengan Teabing, dan antarmereka bertiga. Dalam dialog itulah, beragam tafsir kontroversial Brown muncul. Misalnya, di Bab 55, dialog Sophie dan Teabing membawa pembaca pada tafsir baru mengenai Konsili Nicaea tahun 325. Pertemuan uskup sedunia itu, menurut Brown, diselenggarakan atas gagasan kaisar Romawi, Kaisar Konstantin. Tujuannya untuk menekan puluhan ajaran keagamaan yang waktu itu muncul. Dalam kesempatan itu, kaisar mendesakkan doktrin soal keilahian Yesus Kristus.

Konsili itu, di mata Brown, penuh muatan politis, yakni hendak menaklukkan dan menyatukan rakyat dalam ideologi tunggal di bawah Kekaisaran Roma. Dengan membuat penyeragaman tersebut, Brown menambahkan, dominasi atas rakyat di wilayah kekuasaan Romawi relatif lebih mudah dilakukan. Gereja selama berabad-abad berpijak pada hasil konsili itu.

Tafsir lain yang juga kontroversial adalah soal Holy Grail atau Cawan Suci yang tampak dalam lukisan Perjamuan Terakhir (The Last Supper) karya Leonardo Da Vinci. Dalam bible dikisahkan, sebelum disalibkan, malam harinya Yesus melakukan perjamuan terakhir bersama ke-12 muridnya. Dalam perjamuan itu, mereka minum anggur dari cawan atau piala, dan memakan roti tak beragi. Menurut Brown, lukisan Da Vinci yang tak menampakkan piala itu menyimpan suatu pesan khusus. Ia berkeyakinan, cawan itu sekedar metafora, yang artinya adalah garis suci keturunan. Kata itu diambil dari terminologi bahasa Perancis abad pertengahan, Sangraal (Holy Grail), dari sang (blood berarti darah) dan raal (royal berarti suci). Darah suci atau garis suci keturunan itu, menurut Brown, asalnya dari Yesus dan Maria Magdalena, yang menurunkan Dinasti Merovingian di Perancis abad pertengahan. Bagi Brown, Cawan Suci yang selama ini ditutup-tutupi itu adalah Maria Magdalena itu sendiri.

Yesus telah menikahi Maria Magdalena. Cuma, hal ini sampai sekarang tertutup rapat. Otoritas Gereja menutupinya, karena bertentangan dengan doktrin Yesus sebagai Tuhan. Tak ayal, buku Brown ini telah meruntuhkan akidah kristiani bahwa ternyata Yesus punya istri dan anak. Anak keturunan Yesus itulah – salah satunya Leonardo Da Vinci – yang diburu dan dihabisi oleh kalangan mapan gereja.

Cerita mengenai ini ada pada legenda yang hidup di abad ke-11. Brown rupanya mengacu ke sana. Isinya menyebutkan bahwa Maria Magdalena kemudian datang ke Prancis dan mendarat di Marsailles. Ia muncul sebagai wanita Yahudi terhormat dari Galilea, Israel. Sampai kini masih diyakini bahwa keturunannya hidup di Prancis dan menurunkan beberapa nama besar, seperti Leonardo Da Vinci, Newton, dan Hugo.

Menurut para pengkritiknya, meskipun Brown meyakini semua jalinan cerita novel itu sebagai fakta kebenaran, materi dasar cerita itu dinilai tak kredibel, dan dinterpretasikan serampangan. Untuk kepentingan novel terbarunya itu, ia mengekplorasi beberapa buku, seperti The Gnostic Gospels karya Elaine Pagels, The Templar Revelation : Secret Guardians of  the True Identity of Christ tulisan Lyn Pick-nett dan Clive Prince.

Buku lain yang mempengaruhi novel Brown adalah Holy Blood, Holy Grail dari Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln.  Selain itu, masih ada lagi penulis perempuan yang mempengaruhi penggemar Shakespeare itu, yaitu Margaret Starbird dengan buku berjudul : The Goddes in the Gospels, Reclaiming the Sacred Feminine dan The woman with Holy Jar : Mary Magdalena and the Holy Grail. Oleh para pengkritiknya, buku-buku itu adalah “omong kosong yang keterlaluan.”

Sumber : Majalah Insani, April 2005

Diterbitkan di: on April 3, 2009 at 9:22 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

GO….IKAPA GO..!


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Book Antiqua”; panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:21.0cm 842.0pt; margin:35.95pt 45.1pt 35.95pt 54.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

newone1SOSIALISASI IKAPA KE DAERAH MUNCULKAN

KEGAIRAHAN IKAPA DAERAH

Ada kekhawatiran ketika dilaksanakannya rapat Kerja Ikapa bulan Januari 2009 ketidakpastian pelaksanaan program dan realisasi program-program kerja yang telah di buat, kebiasaan masalalu yang menyebabkan program IKAPA tidak berjalan sangat kompleks dan hal ini nyaris terjadi pada periode 2009-2013 ini.

Ada sebuah harapan yang muncul ketika beberapa pengurus IKAPA PUSAT melaksanakan program-programnya pada seratus hari kerja IKAPA pasca pelantikan , berawal dari rapat rapat yang dilaksanakan oleh Departemen Organisasi dan Kelembagaan dengan yang diketuai M.Cahyanto S.H.I bersama Ketua I Djaka Badranaya, SE, M.S.I. Salahsatu program yang dilaksanakan dibawah koordinasi mereka adalah pemutakhiran database alumni dan pembentukan IKAPA daerah diberbagai kabupaten se-Indonesia dimanapun alumni berada.

Pada Sosialisasi pembentukan IKAPA daerah IKAPA Pusat senantiasa menekankan bahwasanya sosialisasi ini hanya mengorientasikan dan mengkomunikasikan antara alumni daerah dan pengurus IKAPA PUSAT serta memfasilitasi terbentuknya IKAPA di daerah yang diharapkan menjad feedback kemajuan alumni Al Basyariyah melalui IKAPA Daerah. Sosialisasi yang telah dilaksanakan di beberapa daerah diharapkan memunculkan optimisme akan keban gkitan Organisasi IKAPA untuk Al-Basyariyah, Sosialisasi Pertama dilaksanakan di Kota Bandung di Ponpes Saeful Hikmah Soekarno Hatta Kota Bandung, Sosialisasi Kedua di Kabupaten Garut bertempat di Ponpes Asyukuriyah Kadungora. Sosialisasipun dilaksanakan di kawasan Bandung Timur, kabupaten Subang dan menyusul di Cianjur, Sukabumi, Karawang, Bekasi, Bogor, Kab.Bandung, Bandung Barat dan beberapa Kota diluar Jawa Barat.

Setelah menyelesaikan tapan Sosialisasi diberbagai daerah tersebut Pengurus IKAPA PUSAT akan membantu pembentukan IKAPA Daerah, Rapat-rapat kerja serta pelantikan oleh Pimpinan Pondok Pesantren Al-Basyariyah Buya Drs.KH Saeful Azhar.beliau sangat menginginkan segera terbentuknya IKAPA Daerah dan beliaupun menjanjikan akan hadir pada acara pelantikan IKAPA daerah dan sempat mengatakan kepada Ketua Umum IKAPA “Seandainya pelantikan itu dilaksanakan di lembaga milik alumni Al-BAsyariyah tidak perlu malu kalau lembaganya kecil”.

DAKWAH AL-BASYARIYAH MELALUI IKAPA

Sebagai lembaga besar dan berpengaruh Al-Basyariyah selalu didatangi santri-santri baru dari berbagai daerah setiap tahunnya, dengan adanya IKAPA di daerah dakwah Al BAsyariyah di berbagai daerah akan lebih efektif dan setiap daerah memungkinkan melakukan kaderisasi dengan turut memasukkan santri dari daerahnya. Kekuatan IKAPA daerah dan Al Basyariyah yang sinergis tentu akan menghasilkan kekuatan luar biasa dalam mengantisipasi tantatangan dunia global diranah pendidikan Indonesia.

Dukungan sudah seharusnya diberikan dalamrangka pemberdayaan alumni, lembaga alumni dan IKAPA diberbagai daerah dan tentunya seperti di Pondok Modern Gontor pengembangan jaringan alumni melalui IKPM akan lebih mengenalkan Gontor dimasyarakat luas dan IKAPA diperiode 2009-2013 ini yakin mampu merubah sikap apriori mayoritas alumni Al-BAsyariyah selama ini terhadap IKAPA dan tentunya perlu dukungan dari Buya Drs.KH Saeful Azhar keluarga Yayasan Bumi Jannah Illiyyin, majlisul Asatidz Al-BAsyariyah dan tentunya Para alumni dari angkatan perintis, hingga angkatan sekarang.

DUKUNGAN DANA ALUMNI UNTUK SOSIALISASI

Pergerakan IKAPA keberbagai daerah tak lepas dari kebutuhan dana operasional, selama ini pengurus IKAPA periode 2009-2013 menysihkan dana pribadi mereka untuk operasional IKAPA ke daerah, walaupun tidak terlalu besar tetapi menyimpulkan kebersamaan yang tumbuh di kalangan pengurus IKAPA mampu menjembatani problem besar organisasi yaitu dana operasional. Bahkan para tokoh alumni dan pengurus di Jakarta pun turut menyisihkan dana mereka untuk berjalannya program IKAPA Pusat.

Rencana bantuan Gubernur yang tak kunjung datang tidak menyurutkan langkah pengurus IKAPA saat ini, masih banyak hal yang bisa dilakukan oleh pengurus IKAPA untuk memiliki pendapatan Organisasi, Bisnis dibidang ekonomi yang tidak terealisasi hingga saat ini jelas mentok pada permasalahan permodalan dan mendirikan Koperasi Syari’ah menjadi langkah berikut agar pengurus IKAPA tidak terjebak dengan melihat peluang bisnis yang berada di dalam pondok pesantren Al-Basyariyah saja, masih ada peluang lain diluar Al-Basyariyah, ada hampir seribu alumni dan keluarganya yang bisa dijadikan pasar Koperasi Syari’ah IKAPA. Go.. IKAPA GO (ridwan hartiwan)

Diterbitkan di: on April 3, 2009 at 9:10 am  Tinggalkan sebuah Komentar  


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Book Antiqua”; panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:21.0cm 842.0pt; margin:35.95pt 45.1pt 35.95pt 54.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

newoneSOSIALISASI IKAPA KE DAERAH MUNCULKAN

KEGAIRAHAN IKAPA DAERAH

Ada kekhawatiran ketika dilaksanakannya rapat Kerja Ikapa bulan Januari 2009 ketidakpastian pelaksanaan program dan realisasi program-program kerja yang telah di buat, kebiasaan masalalu yang menyebabkan program IKAPA tidak berjalan sangat kompleks dan hal ini nyaris terjadi pada periode 2009-2013 ini.

Ada sebuah harapan yang muncul ketika beberapa pengurus IKAPA PUSAT melaksanakan program-programnya pada seratus hari kerja IKAPA pasca pelantikan , berawal dari rapat rapat yang dilaksanakan oleh Departemen Organisasi dan Kelembagaan dengan yang diketuai M.Cahyanto S.H.I bersama Ketua I Djaka Badranaya, SE, M.S.I. Salahsatu program yang dilaksanakan dibawah koordinasi mereka adalah pemutakhiran database alumni dan pembentukan IKAPA daerah diberbagai kabupaten se-Indonesia dimanapun alumni berada.

Pada Sosialisasi pembentukan IKAPA daerah IKAPA Pusat senantiasa menekankan bahwasanya sosialisasi ini hanya mengorientasikan dan mengkomunikasikan antara alumni daerah dan pengurus IKAPA PUSAT serta memfasilitasi terbentuknya IKAPA di daerah yang diharapkan menjad feedback kemajuan alumni Al Basyariyah melalui IKAPA Daerah. Sosialisasi yang telah dilaksanakan di beberapa daerah diharapkan memunculkan optimisme akan keban gkitan Organisasi IKAPA untuk Al-Basyariyah, Sosialisasi Pertama dilaksanakan di Kota Bandung di Ponpes Saeful Hikmah Soekarno Hatta Kota Bandung, Sosialisasi Kedua di Kabupaten Garut bertempat di Ponpes Asyukuriyah Kadungora. Sosialisasipun dilaksanakan di kawasan Bandung Timur, kabupaten Subang dan menyusul di Cianjur, Sukabumi, Karawang, Bekasi, Bogor, Kab.Bandung, Bandung Barat dan beberapa Kota diluar Jawa Barat.

Setelah menyelesaikan tapan Sosialisasi diberbagai daerah tersebut Pengurus IKAPA PUSAT akan membantu pembentukan IKAPA Daerah, Rapat-rapat kerja serta pelantikan oleh Pimpinan Pondok Pesantren Al-Basyariyah Buya Drs.KH Saeful Azhar.beliau sangat menginginkan segera terbentuknya IKAPA Daerah dan beliaupun menjanjikan akan hadir pada acara pelantikan IKAPA daerah dan sempat mengatakan kepada Ketua Umum IKAPA “Seandainya pelantikan itu dilaksanakan di lembaga milik alumni Al-BAsyariyah tidak perlu malu kalau lembaganya kecil”.

DAKWAH AL-BASYARIYAH MELALUI IKAPA

Sebagai lembaga besar dan berpengaruh Al-Basyariyah selalu didatangi santri-santri baru dari berbagai daerah setiap tahunnya, dengan adanya IKAPA di daerah dakwah Al BAsyariyah di berbagai daerah akan lebih efektif dan setiap daerah memungkinkan melakukan kaderisasi dengan turut memasukkan santri dari daerahnya. Kekuatan IKAPA daerah dan Al Basyariyah yang sinergis tentu akan menghasilkan kekuatan luar biasa dalam mengantisipasi tantatangan dunia global diranah pendidikan Indonesia.

Dukungan sudah seharusnya diberikan dalamrangka pemberdayaan alumni, lembaga alumni dan IKAPA diberbagai daerah dan tentunya seperti di Pondok Modern Gontor pengembangan jaringan alumni melalui IKPM akan lebih mengenalkan Gontor dimasyarakat luas dan IKAPA diperiode 2009-2013 ini yakin mampu merubah sikap apriori mayoritas alumni Al-BAsyariyah selama ini terhadap IKAPA dan tentunya perlu dukungan dari Buya Drs.KH Saeful Azhar keluarga Yayasan Bumi Jannah Illiyyin, majlisul Asatidz Al-BAsyariyah dan tentunya Para alumni dari angkatan perintis, hingga angkatan sekarang.

DUKUNGAN DANA ALUMNI UNTUK SOSIALISASI

Pergerakan IKAPA keberbagai daerah tak lepas dari kebutuhan dana operasional, selama ini pengurus IKAPA periode 2009-2013 menysihkan dana pribadi mereka untuk operasional IKAPA ke daerah, walaupun tidak terlalu besar tetapi menyimpulkan kebersamaan yang tumbuh di kalangan pengurus IKAPA mampu menjembatani problem besar organisasi yaitu dana operasional. Bahkan para tokoh alumni dan pengurus di Jakarta pun turut menyisihkan dana mereka untuk berjalannya program IKAPA Pusat.

Rencana bantuan Gubernur yang tak kunjung datang tidak menyurutkan langkah pengurus IKAPA saat ini, masih banyak hal yang bisa dilakukan oleh pengurus IKAPA untuk memiliki pendapatan Organisasi, Bisnis dibidang ekonomi yang tidak terealisasi hingga saat ini jelas mentok pada permasalahan permodalan dan mendirikan Koperasi Syari’ah menjadi langkah berikut agar pengurus IKAPA tidak terjebak dengan melihat peluang bisnis yang berada di dalam pondok pesantren Al-Basyariyah saja, masih ada peluang lain diluar Al-Basyariyah, ada hampir seribu alumni dan keluarganya yang bisa dijadikan pasar Koperasi Syari’ah IKAPA. Go.. IKAPA GO (ridwan hartiwan)

Diterbitkan di: on April 3, 2009 at 9:03 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

PONDOK PESANTREN DARUL FALAH

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Book Antiqua”; panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Arial Narrow”; panose-1:2 11 5 6 2 2 2 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {margin:0in; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; mso-pagination:widow-orphan; font-size:14.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:”Arial Narrow”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

Pondok Pesantren adalah subkultur masyarakat Indonesia. Keberadaan Pondok Pesantren ditengah masyarakat Indonesia telah mendarah daging dalam kehidupan sejarah Indonesia itu sendiri, karenanya pondok pesantren merupakan soko guru masyarakat Indonesia yang harus dilestarikan.kehidupan di Pondok Pesantren dikenal dinamis dan harmonis serta memiliki nilai nilai kehidupan tersendiri yang tidak jauh dari masyarakat sekitarnya.

Eksistensi Pondok Pesantren ditengah masyarakat kini tidak terbantahkan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kemajuan suatu kaum wabil khusus bangsa Indonesia. Masyarakat Indonesia kini tidak menjadi alergi dengan kehadiran Pondok Pesantren didalam setiap perannya. Peran serta Pesantren dalam mencerdaskan kehidupan bangsa tidak bias dikesampingkan begitu saja. Banyak sudah Pondok Pesantren dengan berbagai typenya melakukan turut melakukan pembangunan bangsa secara utuh.

Salah satu contoh bagaimana peran serta Pondok Pesantren Cipasung di Tasikmalaya atau Pondok Pesantren Gontor di Jawa Timur dan masih banyak lagi Pondok pesantren lain yang berperan dengan peran dan gayanya masing masing menunjukkan kemampuannya dalam membangun bangsa sehingga tidak salah banyak Pondok Pesantren yang memiliki ciri khas sebagai bentuk dari keunggulan baik dari aspek ekonomi, pendidikan bahasa, pertanian, keterampilan dan lain sebagainya.

Pondok Pesantren Darul Falah yang berlokasi di Jalanraya Cisalak, Kp Patrol Desa Cimanggu Kec. Cisalak Kabupaten Subang adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat sekitar dan menjadi pilot project dari sekelompok anak muda alumni sebuah Pondok pesantren dalam menegakkan kalimatuLLAH Sejak Tahun 1999 melalui pendirian sebuah Pondok Pesantrennyang seiring an sejalan dengan kehendak masyarakatnya dengan prinsip kemandirian Pondok pesantren Darul Falah telah mencoba tampil dengan berbagai kelebihan dan keunggulan yang mengedepankan visi dan misi umat Islam sebagai KHAIRU UMMATIN (Sebaik baiknya Ummat). Pondok Pesantren Darul Falah memiliki beberapa prinsip termaktub didalam 7 (Tujuh Prinsip pengelolaan Pondok Pesantren Darul Falah) sebagaimana dijabarkan didalam proposal singkat ini.

Pada Tahun 2008 Pondok Pesantren Darul Falah memiliki Ijin SMP NU Darul Falah dari Dinas Pendidikan Kabupaten Subang untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajaran santri. didukung 19 Guru dari Perguruan Tinggi, Pesantren dan lainnya Ponpes Darul Falah tentu akan lebih maju lagi.200902116312

Diterbitkan di: on Februari 21, 2009 at 8:39 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

PONDOK PESANTREN DARUL FALAH

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Book Antiqua”; panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Arial Narrow”; panose-1:2 11 5 6 2 2 2 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {margin:0in; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; mso-pagination:widow-orphan; font-size:14.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:”Arial Narrow”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

Pondok Pesantren adalah subkultur masyarakat Indonesia. Keberadaan Pondok Pesantren ditengah masyarakat Indonesia telah mendarah daging dalam kehidupan sejarah Indonesia itu sendiri, karenanya pondok pesantren merupakan soko guru masyarakat Indonesia yang harus dilestarikan.kehidupan di Pondok Pesantren dikenal dinamis dan harmonis serta memiliki nilai nilai kehidupan tersendiri yang tidak jauh dari masyarakat sekitarnya.

Eksistensi Pondok Pesantren ditengah masyarakat kini tidak terbantahkan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kemajuan suatu kaum wabil khusus bangsa Indonesia. Masyarakat Indonesia kini tidak menjadi alergi dengan kehadiran Pondok Pesantren didalam setiap perannya. Peran serta Pesantren dalam mencerdaskan kehidupan bangsa tidak bias dikesampingkan begitu saja. Banyak sudah Pondok Pesantren dengan berbagai typenya melakukan turut melakukan pembangunan bangsa secara utuh.

Salah satu contoh bagaimana peran serta Pondok Pesantren Cipasung di Tasikmalaya atau Pondok Pesantren Gontor di Jawa Timur dan masih banyak lagi Pondok pesantren lain yang berperan dengan peran dan gayanya masing masing menunjukkan kemampuannya dalam membangun bangsa sehingga tidak salah banyak Pondok Pesantren yang memiliki ciri khas sebagai bentuk dari keunggulan baik dari aspek ekonomi, pendidikan bahasa, pertanian, keterampilan dan lain sebagainya.

Pondok Pesantren Darul Falah yang berlokasi di Jalanraya Cisalak, Kp Patrol Desa Cimanggu Kec. Cisalak Kabupaten Subang adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat sekitar dan menjadi pilot project dari sekelompok anak muda alumni sebuah Pondok pesantren dalam menegakkan kalimatuLLAH Sejak Tahun 1999 melalui pendirian sebuah Pondok Pesantrennyang seiring an sejalan dengan kehendak masyarakatnya dengan prinsip kemandirian Pondok pesantren Darul Falah telah mencoba tampil dengan berbagai kelebihan dan keunggulan yang mengedepankan visi dan misi umat Islam sebagai KHAIRU UMMATIN (Sebaik baiknya Ummat). Pondok Pesantren Darul Falah memiliki beberapa prinsip termaktub didalam 7 (Tujuh Prinsip pengelolaan Pondok Pesantren Darul Falah) sebagaimana dijabarkan didalam proposal singkat ini. Berkaitan dengan Upaya Pensuksesan Program Wajar Dikdas 9 Tahun di Kabupaten Subang untuk Tahun 2006-2007. Melalui proposal ini kami merencanakan pembangunan kompleks pendidikan pondok pesantren secara berkala sesuai dengan kemampuan dana yang dimiliki lembaga. Karenanya kami memohon bantuan kepada masyarakat Islam yang berkenan membantu perjuangan kami. Adapun rencana pembangunan yang akan kami laksanakan adalah pembangunan Gedung Serba Guna dilokasi tanah wakaf yang dimiliki Pondok Pesantren Darul Falah seluas 2800 M2. Semoga Allah SWT. Membalas segala kebaikan yang telah diberikan kepada kami.

Diterbitkan di: on Februari 21, 2009 at 8:23 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

DATA LEMBAGA ALUMNI AL BASYARIYAH

Sebagai tanggaung jawab saya sebagai Ketua umum IKAPA PUSAT 2009-2013, saya tetap akan menjalankan tugas-tugas saya walaupun sebagaian teman tidak begitu tertarik pada program kerja IKAPA.

Salah satu programnya adalah mendata seluruh lembaga milik alumni Al-basyariyah berikut keberadaaan alumni di lembaga manapun, karenanya melalui weblog ini saya mendata lembaga alumni yang telah masuk melalui no HP saya, mohon bantuan rekan rekan agar turut memberikan input keberadaan lembaga-lembaga dimaksud  berikut para alumni.  Terimakasih  Semoga pengabdian ini berguna bagi alumni Al-Basyariyah dimasa yang akan datang@Ketua Umum IKAPA PUSAT /Ridwan Hartiwan Raharusun

Diterbitkan di: on Februari 19, 2009 at 6:07 am  Komentar (3)  

Kode KampungBlog.com

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Diterbitkan di: on Januari 22, 2009 at 12:46 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Heryawan, “Pontren Agen Pembangunan”

BANDUNG, (PR).-
Pondok pesantren bisa menjadi agen pembangunan di Jawa Barat. Selama ini, pesantren dikenal sebagai tempat menempa sumber daya manusia yang andal. Demikian disampaikan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan saat penutupan Muktamar I Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Al-Basyariyah dan Milad ke-68 di Pontren Al Basyariyah Margaasih, Kab. Bandung, Minggu (11/1).

Heryawan mengungkapkan, saat ini tantangan pondok pesantren adalah menyiapkan sumber daya manusia sebaik mungkin untuk meningkatkan partisipasi masyarakat bagi pembangunan nasional. “Diperlukan dukungan dan sinergitas seluruh elemen, termasuk pondok pesantren, terutama dalam menyiapkan sumber daya manusia yang andal,” tuturnya.

Menurut Heryawan, pembangunan membutuhkan optimalisasi sumber daya yang dimiliki persantren, yakni menjadikan pesantren sebagai agen perubahan dan agen pembangunan. “Saya berharap, ke depan Pontren Al Basyariyah dapat menjadi mitra pemerintah daerah dalam mewujudkan program pembangunan di Jawa Barat,” ucapnya pula.

Kemiskinan

Akar segala permasalahan, kata Heryawan, muncul dari kemiskinan dan ketimpangan. Sementara ketimpangan pembangunan yang saat ini terjadi, terletak pada kurangnya kualitas sumber daya manusia.

“Kunci pembenahan kualitas sumber daya manusia, salah satunya mendorong peran bidang pendidikan,” katanya.

Heryawan menegaskan pula, misi pembangunan bidang pendidikan menyangkut penyelamatan kemanusiaan dan peradaban. Dengan demikian, dituntut adanya peningkatan fungsi edukatif (tarbiyah) dan benteng penjaga moral pesantren untuk membangun kualitas sumber daya manusia di Jabar.

“Pontren Al Basyariyah mampu menunjukkan kapasitas dan kapabilitasnya sebagai lembaga pendidikan. Keberhasilan tersebut, di antaranya mampu menanamkan kedisiplinan dalam setiap aktivitas pembelajaran dan mendidik para santrinya,” tuturnya lagi.

Pontren Al Basyariyah didirikan tahun 1982 oleh Drs. K.H. Saeful Azhar. Selama 26 tahun dipimpin K.H. Saeful Azhar, pontren ini mampu mempertahankan eksistensinya sebagai bagian integral dari pembangunan pondasi pendidikan dan keagamaan umat di Jabar. (A-187)***

Di Kutip dari HU Pikiran Rakyat Bandung

Diterbitkan di: on Januari 21, 2009 at 11:01 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

MUKTAMAR I IKATAN ALUMNI PESANTREN AL-BASYARIYAH

ridwan hartiwan raharusun

ridwan hartiwan raharusun

Menuju era organisasi IKAPA modern, dinamis dan berwawasan

Ditulis Oleh : Ridwan Hartiwan Raharusun

Muktamar I IKAPA Pondok Pesantren Al-BAsyariyah di depan mata, setelah acara wisata rohani keliling pulau Jawa rencananya agenda tanggal 9 Januari 2008 adalah pembukaan MUKTAMAR ke-1 IKAPA di Pondok Pesantren Al-Basyariyah, ada sebuah bahan untuk menjadi renungan bagi kita semua Muktamar yang rencananya melibatkan banyak alumni ini tentu akan membutuhkan banyak biaya. Dari mana semua itu? Yang jelas terselenggaranya Muktamar IKAPA ini menjadi momentum kebangkitan alumni Al-basyariyah menuju ikatan alumni yang terorganisir secara baik. Pondok Pesantren Al-BAsyariyah adalah pesantren besar dan memiliki charisma di Jawa Barat, sejak dulu Al-BAsyariyah dikenal dan didatangi berbagai kalangan dari rakyat biasa hingga pejabat-pejabat penting negeri ini. Ada sebuah harapan dengan penyelenggaraan Muktamar Ikapa 2009 ini yakni kekuatan alumni dan keberadaanya dimanapun mereka berada menjadi kekuatan sinergis yang potensial untuk menumbuhkan citra tersendiri bagi pondok almamaternya, saat kita berada dipondok Buya sering mengatakan bahwa baik dan buruknya sebuah pondok pesantren salahsatunya karena kualitas para alumninya di masyarakat.

Ada perkembangan baik alumni Al-Basyariyah pada tahun 2008 ini yaitu seringnya kegiatan kumpul alumni di Pondok dengan lebih terorientasi untuk membangun organisasi alumni Al-Basyariyah yang solid dan terorganisir, penulis berkeyakinan alumni Al-Basyariyah tidak sekedar datang ke pondok untuk bernostalgia tapi ada sebagian mereka yang serius ingin membangun alumni Al-Basyariyah yang terorganisir, hanya ada satu jawaban yang bias kita ketengahkan yakni IKAPA yang maju, modern, dinasmis sebagai organisasalumni yang bertanggung jawab atas pondok almamaternya, para alumni anggotanya dan masyarakat Muslim pada umumnya.

ORGANISISASI IDEAL IKAPA, ALUMNI ALBA JAYA & PARADOKSAL IDEOLOGI

Pada pelaksanaan workshop di Pondok Pesantren Al BAsyariyah beberapa waktu lalu penulis turut tampil sebagai pembicara bersama pembicara-pembicara lainnya, dapat dirasakan nuansa intelektual dari alumni Al-Basyariyah saat itu ketika melihat gaya bicara seorang Jaka Badranaya yang lugas, berwawasan dan mewakili dari kalangan intelektua muda alumni Al-Basyariyah yang ada, pada sesi Tanya jawab gerakan keinginan alumni lebih terasa dengan munculnya keinginan dari alumni Al-Basyariyah di Jakarta tentang kebangunan dan kebangkitan alumni, pertanyaan kritis, analitis mewarnai perdebatan masadepan alumni. Idealisme alumni alumni Al-Basyariyah saat ini direpresentasi pada workshop saat itu, dan Muktamar menjadi satu jawaban penting masa depan IKAPA dimasa yang akan datang, penulis berkeyakinan sikap kritis alumni Al-Basyariyah Jakarta (Al-Ba Jaya) lahir dari sikap kritis yang tidak asal asalan, mereka mengetahui kelemahan IKAPA dan pelaku organisasi Ikapa dari masa kemasa dari sisi histories IKAPA itu sendiri. Secara Ideologi Organisasi IKAPA tidak berjalan sebagai mana mestinya tidak jelas dan tidak memiliki kekuatan dikalangan alumni sendiri, ini menjadi penting mengingat IKAPA terlahir dari pondok yang memiliki pemimpin besar. Pembangunan ideology organisasi IKAPA menjadi sangat penting karena tanpa fundamental yang kokoh Organisasi IKAPA akan kembali ke masa suramnya dan ini menjadi tanggung jawab seluruh alumni Al-Basyariyah. JAngan sampai Muktamar IKAPA hanya menjadi symbol kebangkitan IKAPA tanpa platform, ideology dan orientasi yang jelas. Dan Muktamar bukan ajang adu kekuatan kubu per kubu, budaya demokrasi yang terbuka tidak harus mengeser nilai-nilai pesantren yang arif dan berkekuatan budaya. Ada sebuah misi dan tugas kita bersama yakni mengantarkan IKAPA yang dihargai pondok, alumni dan masyarakat karena bakti dan manfaat yang diberikan begitu besar. Persoalan kita akan meniru organisasi alumni pesantren mana tidak menjadi penting apabila kita mampu menggali potensi dan kekuatan alumni Al-Basyariyah secara baik, pengalaman alumni Al-Basyariyah yang ada saat ini cukup menjadi modal bagi pembangunan organisasi alumni tanpa harus menduplikasi organisasi lain.

MUKTAMAR IKAPA DAN REVITALISASI PERAN ALUMNI

Dari perspektif yang sempit penulis membagi pada tiga kelompok besar alumni Al-Basyariyah, kelompok kesatu kelompok peduli tapi pemalu, kelompok kedua tidak peduli tapi sok peduli, dan kelompok ketiga tidak peduli sama sekali. Benar atau tidak pembagian ketiga kelompok ini sangat relative mengingat sikap pemalu dari kelompok kesatu, sikap sok peduli dan sikap ketidak pedulian dari kelompok-kelompok lainnya menurut analisas penulis karena system yang ada tidak memberikan ruang gerak kepada semua kelompok ini dan akibatnya semua kelompok sama sama hanya mengandalkan alasan histories dalam hubungannya dengan pondok almamaternya. Jika Muktamar berhasil mewujudkan organisasi ideal IKAPA maka jangan heran ketiga kelompok besar alumni diatas akan menjadi sumber kekuatan, perubahan sikap akan mewarnai banyak alumni Al-Basyariyah, serta pondok almamater akan merasa bahwa peran alumni ril dalam membesarkan pondoknya.

Revitalisasi peran alumni Al-Basyariyah perlu dikedepankan, alumni bukanlah objek dari pondok almamaternya semata tapi harus menjadi agen yang turut memberikan andil dan kemajuan untuk pondok almamaternya. Wallahu a’lam

Penulis adalah alumni Al-Basyariyah angkatan ketujuh dan pimpinan Kulliyatrul Dirasah Al-Islamiyah Pondok pesantren Darul-Falah Subang-Jawa Barat

Diterbitkan di: on Desember 20, 2008 at 1:56 am  Komentar (2)  

“UJIAN NASIONAL, PILPRES 2009dan neo-nasionalisme”

Bagi insan pendidikan di Indonesia Ujian Nasional tentu menjadi agenda besar transisional dari berbagai strata pendidikan yang berlaku di Indonesia, masalah kualitas dari pendidikan secara nasional sepertinya akan terukur dengan UN disetiap tahun padahal sama sekali membingungkan dan lebih menyebalkan dari penambahan pelajaran, tarik ulur jadual dan standardisasi penilaian dan rata rata Ujian tidak mengedepankan aspek kurikulum pendidikan tingkat satuan pendidikan (KTSP). Bayangkan saja cara belajar yang ” localy” tiba tiba diuji dengan gaya ujian “globaly”, orang bisa mengatakan antara langit dan bumi. coba Depdiknas melihat pembelajaran di pelosok daerah Indonesia agar tidak gegabah menentukan kebijakan. percuma saja standarisasi kualitas pendidikan secara nasional kalau insan pendidikan itu sendiri di sekolah guru dan siswanya, para pengawas ujian dan para penggerak lapangan di Departemen pendidikan hingga tingkat bawah ternyata mengenyampingkan aspek kejujuran, sama sama malu takut orangtua, sekolah dan daerahnya dikategorikan gagal Ujian nasional, akhirnya konspirasi pembocoran soal-soal UN dilakukan.

PILPRES 2009 DAN UN 2009 ; tidak membingungkan tapi “mengada-ada”

UN 2009 terasa lain karena pada tahun yang sama ada pilpres, tentu nuansa politik lebih kentara yang mudah mudahan tidak masuk ke area Ujian Nasional itu sendiri, mau di undur atau “dimaju” atau di tiadakan pasti jadi masalah yang lebih penting adalah masing-masing agenda sama sama demi kemajuan bangsa, hanya ada sebuah pesan moral yang pantas kita kedepankan dari Pilpres dan UN 2009, keduanya tak bersih dari tangan kotor anak bangsa ini. dan pasti penuh trik dan nuansa politis. Demokrasi yang kebablasan pada akhirnya berakibat pada sistem pendidikan negeri ini yang terlalu sering berubah dan kurikulum yang selalu tidak cocok karena latar belakang menteri yang memimpin Depdiknas juga berbeda. Anggaran pendidikan 20% APBN 2009 bukan alasan, bangsa ini butuh kejelasan status pendidikan, Demokratisasi pendidikan hanya tercapai jika kita mau benar benar membawa pancasila kedalam lingkup Demokrasi itu sendiri dan jangan ada dua departemen yang “ngurusin” pendidikan. Kita lebih sering meniru Amerika Serikat dan Eropa daripada melihat sistem Pendidikan di India dan Vietnam sekarang.

NEO FUNDAMENTALISME DALAM NASIONALISME

Pilpres dan UN 2009 tentu akan menentukan keberpihakan kita pada Indonesia “in the next future” (ada next ditambah future)” artinya Indonesia masih akan ada dalam waktu yang sangat lama. Pilpres dan UN 2009 harus menjadi bagian pendidikan Nasionalisme negeri ini. Bangsa ini lebih sering mencap terorisme, fundamentalisme dan radikalisme gerakan Islam, padahal gerakan seperti itu layak ditiru dengan mengganti dengan gerakan radikalisme, fundamentalisme neo nasionalitas baru masyarakat Indonesia.

Bagi saya orang pesantren Demokrasi adalah simbol ketidakmampuan kepemimpinan dan contoh buruk bagi bangsa ini. kita berbicara nasionalisme tapi menjadi plagiator dari Demokrasi barat.

Selamat semoga UN dan Pilpres 2009 menjadi penyelamat persatuan bangsa ini.

Terimakasih(ridwan hartiwan raharusun/pimp. pondok pesantren darul falah subang jawa barat)

Diterbitkan di: on Desember 3, 2008 at 1:48 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.